TINJAUAN PUSTAKA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang membahas tindak tutur berkaitan dengan strategi penolakan telah beberapa kali dilakukan. Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Aditya

Tri Utami (2010) mahasiswa Universitas Indonesia yang berjudul “Tindak Tutur Penolakan Argumen Dalam Acara Outa Souri Ditinjau Dari Strategi Kesantunan”. Penelitian ini membahas tindak tutur penolakan argumen dalam sebuah acara debat berjudul Outa Souri yang ditinjau dari strategi kesantunan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penolakan argumen dalam acara Outa Souri dapat dilakukan dengan empat strategi kesantunan, yaitu secara eksplisit, menggunakan kesantunan positif, kesantunan negatif, dan secara implisit. Dengan faktor-faktor yang mempengaruhi variasi tindak tutur yaitu usia, jarak sosial, gender, dan kewarganegaraan.

Penelitian Bayu Kusuma Mada (2013) mahasiswa sastra Jepang Universitas Dian Nuswantoro dengan judul “Analisis Ungkapan Penolakan Bahasa Jepang Dalam Film Ranma 1/2″. Penelitian ini meneliti tentang ragam bahasa, struktur, strategi yang digunakan saat melakukan penolakan. Hingga diperoleh hasil dari penelitian ini yaitu bahwa ragam bahasa hormat digunakan oleh orang yang kedudukannya lebih tinggi, orang luar, dan pada situasi yang formal. Strategi pada penolakan digunakan untuk memperlunak penolakan, selain itu juga digunakan untuk menjaga hubungan antar sesama individu.

Penelitian-penelitian tersebut sama-sama mengkaji tentang tindak tutur penolakan beserta strategi yang digunakan dikaitkan dengan beragam jenis kesantunan dan ragam bahasa. Penelitian yang dilakukan

6

oleh peneliti juga masih terkait dengan tindak tutur dan strategi penolakan. Bedanya dengan penelitian-penelitian tersebut adalah yang menjadi fokus pada penelitian ini yaitu meneliti tentang strategi-strategi apa saja yang digunakan oleh mitra tutur ketika melakukan tindak tutur penolakan atas suatu ajakan. Kemudian data yang digunakan juga berbeda, data pada penelitian ini diambil dari penelitian lapangan dimana objek penelitiannya yaitu mahasiswa sastra Jepang Udinus yang sudah tamat pembelajaran Minna no Nihongo 1 dan 2. Karena data diambil dari penelitian lapangan bukan dari film maupun novel maka pada penelitian ini ditemukan temuan-temuan baru.

2.2 Tindak tutur

Austin (dalam F.X.Nadar 2009:11-12) mendefinisikan bahwa tindak tutur adalah kegiatan tuturan yang dilakukan dalam suatu waktu. Teori tindak tutur berkata bahwa kegiatan tuturan itu dilakukan ketika ucapan atau ungkapan yang dihasilkan dapat dianalisis. Tindak tutur adalah aktifitas manusia. Austin dan Searle beranggapan bahwa ketikda seorang penutur mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu pada saat yang sama. Tindak tutur merupakan suatu aktivitas. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act). Tindak tutur sebagai suatu tindakan itu sama dengan menendang atau mencubit. Hanya saja, bagian tubuh yang berperan berbeda. Pada tindakan bertutur bagian tubuh yang berperan adalah alat ucap.

Menurut Austin (1962:26) tindak tutur dibagi menjadi dua yaitu tuturan konstatif dan perfomatif. Tuturan konstatif adalah tuturan yang dipergunakan untuk menyatakan sesuatu sedangkan perfomatif adalah tuturan yang pengutaraannya dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak tutur sendiri dibagi kedalam dua jenis yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung.

Tindak tutur langsung adalah tuturan yang sesuai dengan modus kalimatnya, misalnya kalimat berita untuk memberitakan, kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, ataupun memohon, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu (F.X. Nadar 2009:18). Tindak tutur langsung yaitu berupa tuturan yang sesuai dengan fungsi kalimat sebenarnya, contohnya saat dokter berkata kepada seorang pasien : “tolong buka mulutnya!” tuturan tersebut memiliki maksud yang sama dengan fungsi kalimat sebenarnya yaitu menyuruh. Sedangkan tindak tutur tidak langsung dikatakan demikian karena modusnya tuturannya berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya, modusnya adalah kalimat tanya sedangkan fungsinya menyuruh (F.X. Nadar 2009:18-19). Seperti contohnya ketika seorang guru berkata kepada muridnya: “bagus, berisik saja terus!” tuturan tersebut bukan berarti bahwa guru tersebut memuji muridnya melainkan mempunyai maksud lain yaitu menyuruh agar muridnya tidak berisik.

Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat perfomatif oleh Austin (1962:100-102) dirumuskan menjadi tiga yaitu :

  1. Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.
  2. Tindak tutur ilokusi merupakan tindak melakukan sesuatu. Berbeda dari lokusi,tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung fungsi atau daya tuturan.
  3. Tindak tutur perlokusi merupakan sebuah tuturan yang diucapkan seorang penutur sehingga membuat efek atau daya pengaruh kepada mitra tutur. Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah dinamakan tindak perlokusi.

Menurut Searle (dalam F.X. Nadar 2009:15-16) menyatakan bahwa tindak ilokusi yang merupakan bagian sentral dalam kajian tindak tutur dibagi menjadi lima yaitu :

      1. Asertif : Tindak ilokusi asertif merupakan tindak ilokusi yang mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dikatakannya. Tindak ini berupa pengumuman, penegasan, penyimpulan, prediksi, pelaporan dan sebagainya.
      2. Direktif : Tindak ilokusi direktif merupakan tindakan penutur yang akan membuat penutur melakukan sesuatu. Tindak tutur ini menyatakan keinginan dari penutur. Contohnya seperti meminta, memerintah, mengajak, menasehati dan sebagainya.
      3. Komisif : Tindak ilokusi komisif merupakan tindak ilokusi yang dipahami dan mengikat penuturnya untuk melakukan apa yang telah diucapkannya di massa yang akan datang. Seperti berjanji, mengancam, dan menawarkan.
      4. Ekspresif : Tindak ilokusi ekspresif adalah tindak ilokusi yang mengekspresikan apa yang dirasakan dalam diri penutur. Dengan demikian tindak tutur ekspresif merupakan ungkapan emosi dan sikap seseorang seperti rasa bahagia, penderitaan dan sebagainya.
      5. Deklarasi : tindak ilokusi deklarasi digunakan untuk menciptakan suatu realitas baru yang hanya bisa dilakukan oleh penutur yang mempunyai wewenang untuk melakukannya.
    1. Tindak Tutur Ajakan

Tindak tutur ajakan muncul ketika penutur (speaker) menunjukkan maksudnya untuk meminta partisipasi atau kehadiran pendengar (hearer) pada kesempatan tertentu, terutama yang diadakan oleh penutur. Menurut Searle (1979: 14), mengajak merupakan directive, yang menunjukkan maksud penutur agar pendengar melakukan sesuatu. Dalam membuat ajakan, penutur melaksanakan rangkaian aksi akan datang yang menguntungkan pendengar. Hal ini juga mengkategorikan mengajak ke dalam commisive, yang membuat penutur memenuhi aksi akan datang. Karena mengajak dibuat penutur agar pendengar melakukan aksi, dan aksi tersebut dilakukan di masa yang akan datang, maka mengajak masuk ke dalam kategori commisive-directive.

    1. Jenis ajakan

Dalam tindak tutur, terdapat dua jenis ajakan yaitu ajakan basabasi dan ajakan nyata Dastpak dan Mollaei (2011:35). Ajakan basa-basi yaitu ajakan yang biasanya terjadi atau dilakukan di akhir interaksi, yang berfungsi sebagai aksi berpisah. Pengajak melakukan ajakan basa-basi dengan tujuan untuk memelihara hubungan baiknya dengan terajak di masa yang akan datang.

Seperti contoh : come to my house sometime.

Kapan-kapan datang ke rumah saya.

Kata keterangan sometime atau kapan-kapan menunjukkan waktu yang tidak tentu. Pengajak menggunakan kata keterangan tersebut dengan maksud memelihara hubungan baik dengan terajak. Sedangkan ajakan nyata dibuat pengajak agar terajak melakukan aksi akan datang.

2.5 Strategi Ajakan

Tindak tutur ajakan dibagi menjadi ajakan langsung (direct invitation) dan ajakan tidak langsung (indirect invitation). BlumKulka,House dan Kasper (1989) menyatakan bahwa strategi ajakan memiliki empat kategori seperti berikut:

  1. Ajakan Langsung
1. Frasa Ellipsis party?
2. Imperatif Come to my party
3. Unhedged perfomatives I invite you to come

to my party

4. Hedged perfomatives I would like to invite

you to come to my

party

5. Kewajiban you must/have to

come to my party

  1. Tidak Langsung Konvensional (berbasis penutur)
6. Keinginan/ kebutuhan I want/need you to come to my party
7. Harapan I would like you to

come to my party

  1. Tidak Langsung Konvensional (berbasis pendengar)
8. Formula menyarankan How about coming to my party?
9. Izin May I invite you to come to my party?
10. Kesediaan Would you come to my party?
11. Kemampuan Could you come to my party?
IV. Ajakan Tidak Langsung
12. Isyarat (kuat) I am having a party
13. Isyarat (halus) Do you know I am

having a party?

2.6 Tindak tutur penolakan

Ketika melangsungkan sebuah percakapan pasti terdapat berbagai macam tindak tutur terjadi di dalamnya. Salah satunya yaitu tindak tutur penolakan. Penolakan terjadi ketika terdapat ketidaksamaan keinginan dari pihak penerima pesan. Penolakan merupakan respon negatif dari sebuah tawaran, permintaan, ajakan, dan sebagainya (Al-Kahtani:3-4).

Penolakan dibagi menjadi dua jenis yaitu penolakan secara langsung dan penolakan tidak langsung. Tuturan penolakan langsung merupakan tuturan penolakan yang di dalam tuturannya terdapat kata menolak seperti いいえ、できない、そうは思わない. Atau jika tidak terdapat kata seperti itu pun, tuturan penolakan langsung dapat di identifikasi melalui makna yang terkandung dalam tuturan penolakan tersebut seperti ketidakmauan, rasa tidak suka, ketidaksanggupan dan lain-lain.

Seperti dalam contoh kalimat 1 berikut ini:

Contoh 1 :

“ 明日はちょっと、私は忙しいから、できないんですけど。。“

Ashita wa chotto, watashi wa isogashiikara, dekinaindesukedo..

Besok umm, karena saya sedang sibuk, jadi tidak bisa..’

Sedangkan tuturan penolakan tidak langsung biasanya penutur sebagai pihak yang menyampaikan penolakannya tidak langsung ke inti masalah, penutur berusaha mencegah penggunaan kata “tidak” saat menolak. Juga biasanya ditambahkan alasan yang lebih berterima dengan tujuan agar penolakan tersebut tidak menyakiti perasaan petutur.

Seperti pada contoh kalimat 2 berikut ini :

Contoh 2 :

“ 来週金曜日ですか、行きたいけど、先生と約束があるから、ごめなさい

Raishu kinyoubi desuka, ikitaikedo, sensei to yakusoku ga arukara, gomenasai

‘Hari jumat minggu depan, sebenarnya ingin pergi, tapi sudah ada janji dengan guru, maaf ya..’

2.7 Strategi Penolakan

Strategi penolakan merupakan cara yang tepat yang kerap digunakan ketika melakukan tindak tutur penolakan. Penolakan sering melibatkan alasan atau penjelasan tentang mengapa penolakan itu dibuat.

Strategi penolakan memiliki fungsi untuk meyakinkan penerima tuturan penolakan tersebut bahwa dia masih dihargai dengan cara menyertakan alasan dibalik penolakan itu, penolak menyesal telah melakukan tindak tutur penolakan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Beebe et al (1990) dalam Scarcella, hal 55-73).

2.7.1.1 Beebe et al

Berikut adalah strategi penolakan yang dikembangkkan menjadi rumus semantik oleh Beebe et al (1990) :

ちょくせつ

  1. Penolakan langsung (direct refusals) 直接的断り

Strategi penolakan langsung biasanya diungkapkan dengan jelas, tidak bermakna ambigu dan lebih ringkas. Pada strategi penolakan langsung penutur dapat menggunakan verba perfomatif maupun non perfomatif. Strategi penolakan yang disampaikan secara langsung , diantaranya disampaikan sebagai berikut :

    1. Menggunakan verba perfomatif

Penutur menolak suatu ajakan dengan menggunakan verba yang menunjukkan tindakan penolakan (I refuse).

Contoh : “Saya menolak” 「断り」

    1. Menggunakan verba non perfomatif
      • Dengan mengatakan tidak (direct “No”).

Contoh : “Tidak”「いいえ。」

      • Mengungkapkan ketidaksanggupannya memenuhi keinginan petutur (I can’t/I won’t/I don’t think so).

Contoh : “Saya tidak bisa” ; “Saya tidak akan melakukan..” ; “Saya tidak berpikir demikian”

「できない。;したくない。;そうは思わない。」

かんせつてき

  1. Penolakan tidak langsung (Indirect refusals) 間接的断り

Dalam strategi penolakan tidak langsung ini biasanya penolakan dilakukan melalui beberapa tahap, penutur harus dapat memilih bentuk penolakan yang pantas agar mengurangi efek negatif dari tuturan penolakan tersebut. Yang termasuk ke dalam strategi penolakan tidak langsung yaitu sebagai berikut :

  1. Pernyataan penyesalan dan permintaan maaf

Penggunaan strategi ini digunakan dengan maksud untuk mengungkapkan penyesalan karena tidak dapat menyanggupi keinginan petutur.

Contoh : “Maafkan saya…”; ”Saya merasa tidak enak…”

「すみません。;悪い」

  1. Harapan

Mengungkapkan harapan bahwa sebenarnya ingin memenuhi keinginan dari penutur.

Contoh : “Saya berharap bisa membantu anda..” “Saya

berharap bisa ikut..”

「手伝ってあげたいんだけど。; 行きたいんだけど」

  1. Alasan, penyebab, suatu penjelasan

Strategi ini kerap digunakan penutur untuk menjelaskan alasan atau penyebab spesifik mengapa tidak bisa memenuhi keinginan penutur.

Contoh : “Saya menderita sakit kepala.”

「私は頭痛がする。」

  1. Penawaran alternatif

Penutur menawarkan alternatif lain sebagai pengganti keinginan atau tawaran yang telah ditolak.  Saya bisa melakukan X bukan Y

Contoh : “Saya lebih suka bermain tenis

「私はテニスがもっとすきだ。」

 Kenapa anda tidak melakukan X bukan Y

Contoh : “Kenapa anda tidak meminta ( tolong) kepada

orang lain?”「他の人聞いてみたら?」

  1. Kondisi penerimaan waktu di masa yang akan datang dan di masa lalu.

Contoh : “Jika anda lebih cepat meminta (memohon) kepada saya, saya akan…”

「もし、もっと早く頼んでいたら、。。。がしたのに。」

  1. Janji untuk penerimaan di masa depan

Mitra tutur memberikan pernyataan atau janji bahwa akan menyanggupi keinginan penutur di lain waktu yang akan datang.

Contoh : “Saya akan melakukannya lain kali”; “Saya berjanji saya akan…” atau “Lain kali saya akan…”

「今度はする。;〜すると約束する。;今度〜する。」

  1. Pernyataan akan prinsip

Contoh : “Saya tidak pernah melakukan bisnis dengan teman.”

とりひき ぜったい

「私は友達と取引は絶対しないんだ。」

  1. Menyampaikan kalimat filosofis

Contoh : “Manusia tidak dapat terlalu hati-hati.”

ようじん

「人間はいくら用心しても、しすぎることはない。」

  1. Usaha untuk menghalangi penutur

Mitra tutur berusaha menghalangi atau menentang pendapat penutur

  1. Menyatakan pernyataan negatif

Contoh : “Kalaupun malam ini ada saya, tidak akan menyenangkan kan?”

「招待の「断り」として,「今度私がいても面白くないだろう。」

  1. Menyampaikan rasa bersalah

Contoh : Pelayan kepada pelanggan yang ingin duduk sebentar, ; “Saya tidak dapat hidup hanya dengan melayani pelanggan yang hanya memesan kopi.”

ゆっくりとするお客に対してウエイトレスが「コーヒーだけ注文するお客様だけでは、私は生活ができません。」

  1. Mengkritik permintaan penutur

Contoh : “Anda pikir anda siapa?”; “Itu ide yang buruk!”

「自分を何さまだと思っているのか。;なんてひどい考えなんだ!」

  1. Meminta bantuan, pertolongan dan empati dengan cara menunda permintaan
  2. Membiarkan penutur keluar dari tanggung jawab Contoh : “Jangan khawatir ini,”; “Tidak apa-apa.”; “Anda tidak perlu..”

「心配しないで、;大丈夫だ。;しなくてもいい。」

  1. Pembelaan diri

Contoh : “Saya melakukan yang terbaik,” “Saya melakukan semuanya yang dapat saya lakukan.” “Saya tidak melakukan hal yang salah.”

「私は頑張っているんだ。;できるだけのことはやっているんだ。;私は間違ったことはやっていない。」

  1. Penerimaan yang berfungsi sebagai penolakan
    1. Jawaban tidak pasti
    2. Jawaban kurang antusias
  2. Penghindaran
    1. Non verbal
      1. Diam
      2. Ragu-ragu
      3. Tidak melakukan apa-apa
      4. Pergi
    2. Verbal
      1. Mengalihkan topik pembicaraan 2) Membuat candaan
      2. Pengulangan bagian permintaan Contoh : “Senin?”

「月曜日?」

      1. Penundaan

Contoh : “Saya akan memikirkan ini.”

「考えておきます。」

      1. Berdalih

Contoh : “ya. Saya tidak mengerti.” ; “Saya tidak yakin.”

かくしん

「うん、分からない。;確信できない。」

Tambahan untuk penolakan :

  1. Pernyataan tentang pendapat positif

Mitra tutur biasanya mengungkapkan pendapat positif atau persetujuan atas ajakan yang ditawarkan.

Contoh : “Itu ide yang bagus…”; “ Dengan senang hati…”

「それはいい考えだけど。;私も…やりたいんだけど。」

  1. Pernyataan empati

Contoh : “Saya tahu anda dalam keadaan yang sulit.”

「あなたが大変な状況にいるのは分かるんだけど。」

  1. Jeda. Strategi ini digunakan untuk mengisi waktu antara selesainya tuturan yang ditawarkan dengan dimulainya tuturan penolakan yang akan diucapkan. Contoh : “uhh”; “hmm”; “oh”

「え〜と、え〜;うん、あのう」

  1. Apresiasi atau ucapan terimakasih. Mitra tutur menyampaikan ucapan terima kasih atas sesuatu yang sudah ditawarkan.
  2. Penolakan berbentuk maaf. Ungkapan 「すみませんが」yang

dipakai guna merespon tuturan dari penutur dapat diartikan sebagai penolakan. 「すみませんが」 yang sejenis atau

merupakan turunan dengan すみませんmemang mempunyai arti “maaf”, namun apabila 「すみませんが」digunakan dengan

konteks ajakan atau difungsikan untuk menjawab suatu ajakan, tawaran dan sejenisnya maka maksud dari 「すみませんが」

tersebut yaitu untuk menyampaikan atau mengekspresikan suasana hati “maaf” kepada pihak penutur, sehingga dapat disimpulkan sebagai ungkapan maaf yang mengarah kepada sebuah penolakan (例解学習国語辞典:495)

2.7.2 Ungkapan strategi penolakan

Ungkapan yang biasanya sering digunakan ketika menolak suatu ajakan yaitu seperti [ちょっと] atau [..は, ちょっと…ですから]. Namun ketika menyampaikan sebuah penolakan atas suatu ajakan dari orang lain, strategi yang digunakan pasti berbeda-beda tergantung dari masingmasing individu memilih tuturan penolakan yang bagaimana sesuai dengan status atau kedekatan antara penutur dengan mitra tutur.

Berikut merupakan contoh dari strategi penolakan yang digunakan untuk menolak sebuah ajakan atau undangan :

  1. : 一緒に映画に行きませんか

Isshoni eiga ni ikimasenka

‘Maukah pergi melihat film bersama?’

  1. : ああ、今日はちょっと、

Aa, kyou wa chotto

‘ Hmm, hari ini maaf..’

Kalimat ああ、今日はちょっと termasuk ke dalam tindak tutur penolakan dengan jenis tidak langsung. Setelah kata chotto terdapat jeda yaitu merupakan salah satu strategi yang digunakan agar penutur paham atau mengerti bahwa keadaan saat itu menandakan mitra tutur tidak bisa memenuhi ajakan tersebut.

Ketika menolak suatu ajakan selain mengungkapkan permintaan maaf juga mensertakan alasan penolakan kemudian diikuti penyesalan dan ungkapan harapan untuk kesempatan di lain waktu.

  1. : 勉強が終わったら一緒に喫茶店へ行きませんか

Benkyou ga owattara isshoni kissaten e ikimasenka

Setelah selesai belajar maukah pergi bersama ke kafe?

  1. : すみません、用事があるから、また今度お願いします

Sumimasen, youji ga arukara, mata kondo onegaishimasu

Maaf, karena sekarang ada keperluan, mungkin bisa lain waktu

Dalam tuturan penolakan tersebut, mitra tutur menggunakan strategi penolakan berbentuk permintaan maaf di awal tuturan ( Sumimasen ) kemudian menyertakan alasan atau penjelasan atas penolakan yang dilakukan. Kemudian di akhir tuturan mitra tutur menggunakan strategi yaitu janji untuk penerimaan di masa depan atau lain waktu. Strategi penolakan yang terdapat dalam tuturan tersebut juga dapat diteliti menggunakan jenis tindak ilokusi menurut Searle. Strategi permintaan maaf (Sumimasen) juga termasuk ke dalam tindak ilokusi ekspresif yaitu tuturan yang mengekspresikan rasa sedih atau bersalah. Lalu alasan penolakan masuk ke dalam tindak ilokusi asertif, tindak tutur yang berupa penegasan bahwa mitra tutur tidak bisa memenuhi ajakan dari penutur. Serta strategi janji untuk penerimaan di masa depan atau lain waktu masuk ke dalam tindak ilokusi komisif yaitu tindak menawarkan atau berjanji untuk kesempatan di lain waktu.

Berikut adalah beberapa contoh ungkapan strategi yang dipakai untuk menjelaskan alasan atau penjelasan ketika hendak menuturkan tuturan penolakan :

  1. ちょっと用事がありますから

Chotto yoji ga arimasukara

‘Maaf karena sudah ada keperluan’

  1. 約束があるから

Yakusoku ga arukara

‘Karena sudah ada janji’

  1. これから早く帰りますので

Korekara hayaku kaerimasunode

‘Karena harus cepat pulang’

Contoh ungkapan strategi yang digunakan untuk mengungkapkan janji penerimaan di masa depan atau lain waktu:

  1. また誘ってください

Mata sasotte kudasai

‘Tolong undang di lain waktu’

  1. また今度お願いします

Mata kondo onegaishimasu ‘Mungkin bisa lain kali’

  1. また機会があれば、誘ってください

Mata kikai ga areba, sasotte kudasai

‘Jika ada lain kesempatan, tolong undang kembali’

Contoh ungkapan strategi yang digunakan untuk menyatakan pernyataan ungkapan harapan (ingin tetapi..) tidak bisa :

      1. 残念ですね

Zannen desune

‘Sayang sekali ya’

      1. 本当に行きたいんけど、

Honto ni ikitaikedo,

‘Sebenarnya ingin pergi, tetapi..’

      1. いいけど、

Ii kedo,

‘Ide yang baik tapi,’

Dari sekian banyak strategi penolakan yang ada, pada umumnya ketika seseorang melakukan tuturan penolakan yang pasti atau kerap digunakan sebagai strategi penolakan yaitu melakukan permintaan maaf, menyatakan atau menjelaskan alasan yang spesifik atas penolakan yang dilakukan, kemudian menyertakan ungkapan penyesalan karena telah menolak serta ungkapan harapan yang berupa janji atau sebuah penawaran agar mau memberi ajakan lagi dilain waktu. Namun jenis tuturan dan ungkapan strategi penolakan yang disampaikan oleh masing-masing individu berbeda-beda. Tentunya strategi penolakan digunakan dengan tujuan untuk memperhalus tuturan penolakan agar tidak menyakiti hati penutur (orang yang mengajak) supaya hubungan sosial antar keduanya ( penutur dan mitra tutur) tetap terjaga.

2.8 Penelitian Pendahuluan

Percakapan ini diambil dari percakapan dua orang native speaker (nihon jin dengan nihon jin) yang merupakan penelitan pendahuluan yang digunakan peneliti sebagai contoh atau patokan mengenai strategi penolakan yang digunakan oleh orang Jepang ketika sedang menolak suatu ajakan. Pada percakapan ini telah diberikan dua peran dan dua konteks yang sama dengan responden. Percakapan pertama yaitu percakapan antara sensei dengan gakusei dan percakapan kedua antara gakusei dengan gakusei.

Percakapan antara Sensei dengan gakusei

Pada percakapan ini satu orang native speaker berperan sebagai sensei dan satu orang native speaker lagi berperan sebagai gakusei dengan konteks yaitu sensei sedang mengajak muridnya (gakusei) untuk pergi bersama menemui Atsuko yang akan datang mengunjungi universitas. Di sini sensei sebagai pelaku ajakan (penutur) dan gakusei sebagai pelaku penolakan (mitra tutur).

先生:「つつみさん、今日私の友人のあつこさんが私の大学に遊びに行きます、よかったら一緒に行きませんか?」

学生:「あ、先生ごめなさい、今日ちょっと用事がありまして、ちょっと行けないんです、すみません先生、折角誘って頂いたのにありがとうございます」

先生:「そうですか、わかりました」

Sensei :“tsutsumi san, kyou watashi no yuujin no atsuko san ga watashi no daigaku ni asobi ni ikimasu, yokattara

isshoni ikimasenka?”

‘tsutsumi, teman saya atsuko hari ini akan pergi untuk mengunjungi universitas saya, jika bisa maukah pergi bersama?’

Gakusei : a, sensei gomennasai , kyou chotto youji ga arimashite, Chotto ikenaindesu, sumimasen sensei, sekkaku sasotte itadaitanoni arigatou gozaimasu”

‘maaf sensei, hari ini ada perlu, tidak bisa pergi, maaf sensei, terima kasih sudah mau mengundang’

Sensei : ”sou desuka, wakarimashita”

oh begitu, baiklah’

Strategi penolakan yang digunakan :

Strategi penolakan yang digunakan :

permintaan maaf alasan penolakan permintaan maaf

ucapan terimakasih atas ajakan

Strategi penolakan yang digunakan oleh nihon jin sebagai gakusei pada percakapan ini yang pertama yaitu strategi penolakan berbentuk permintaan maaf. Terdapat ungkapan –sensei gomennasai di awal tuturan penolakannya. –gomennasai merupakan bentuk bahasa formal yang mempunyai makna ‘maafkan’ sebagai permintaan maaf. Karena – gomennasai digunakan di awal tuturan guna untuk menjawab suatu ajakan maka fungsinya yaitu sebagai permintaan maaf karena akan menolak. –gomennasai merupakan strategi penolakan berbentuk permintaan maaf. Kemudian strategi kedua yang digunakan yaitu strategi alasan penolakan, dengan mengatakan bahwa hari itu ada perlu sehingga tidak bisa pergi. Strategi alasan penolakan digunakan untuk menjelasakan alasan yang lebih spesifik tentang mengapa melakukan penolakan sehingga penolakannya dapat lebih berterima. Terdapat pula kata –chotto, menurut kokugojiten (http://weblio.jp/content/%E3%81%A1%E3%82%87 %E3%81%A3%E3%81%A8) –chotto mempunyai beberapa fungsi salah satunya yaitu sebagai bahasa penyangkalan, penolakan (uchikeshi go) atau dalam arti sederhananya (…dekinai) . Setelah mengungkapkan alasan penolakan lalu digunakan strategi permintaan maaf dengan mengatakan –sumimasen sensei digunakan sebagai bentuk penyesalan meminta maaf karena telah menolak. Tidak lupa di akhir kalimat mengatakan –sekkaku sasotte itadaitanoni arigatou gozaimasu. Mengucapkan ucapan terima kasih karena sudah berkenan mengajak.

Percakapan antara gakusei dengan gakusei

Pada percakapan ini satu orang native speaker berperan sebagai gakusei1 dan satu orang native speaker lagi berperan sebagai gakusei2 (dibuat seperti antar teman) dengan konteks yaitu gakusei1 sedang mengajak gakusei2 untuk pergi bersama bermain ke rumah Mio. Di sini gakusei1 sebagai pelaku ajakan (penutur) dan gakusei2 sebagai pelaku penolakan (mitra tutur).

学生 1 :「まきちゃん、今日みおちゃんの家に遊びに行くんだけど、よかったら一緒に来ない?」

学生 2 :「ごめん、今日家族で遊びに行く予定があるんだ行けないはごめんね」

学生 1 :「ああ、oke じゃまた今度ね」学生 2 :「はい」

Gakusei 1 : “maki chan, kyou mio chan no uchi ni asobi ni ikundakedo, yokattara isshoni konai?

‘Maki, hari ini aku akan pergi ke rumah mio, kalau bisa maukah pergi bersama?’

Gakusei 2 : “gomen, kyou kazoku de asobi ni iku yotei arunda ikenai wa gomen ne”

‘maaf, hari ini ada rencana pergi bersama keluarga , aku tidak bisa pergi maaf ya’

Gakusei 1 : “aa, oke jya mata kondo ne”

ah oke baiklah lain kali’ Gakusei 2 : “hai” ‘ya’

Strategi penolakan yang digunakan :

permintaan maaf alasan penolakan permintaan maaf

Strategi awal yang digunakan pada tuturan penolakan gakusei2 yaitu strategi penolakan berbentuk permintaan maaf. Adanya ungkapan – gomen di awal tuturan menandai bahwa akan dimulainya tuturan penolakan. –gomen merupakan bahasa non formal dan singkatan atau pemendekkan dari kata –gomennasai (–gomennasai no ryaku) yang berarti ‘maaf’. Karena –gomen digunakan di awal tuturan untuk menjawab suatu ajakan maka fungsinya yaitu sebagai permintaan maaf dengan maksud menolak. –gomen merupakan strategi penolakan berbentuk permintaan maaf. Kemudian setelahnya menggunakan strategi alasan penolakan dengan mengatakan bahwa hari itu sudah ada rencana pergi bersama dengan keluarga sehingga tidak bisa menerima ajakan. Strategi alasan penolakan digunakan untuk menjelaskan alasan yang lebih spesifik tentang mengapa melakukan penolakan sehingga penolakannya dapat lebih berterima. Di akhir tuturan penolakannya digunakan strategi permintaan maaf ditandai dengan penggunaan –gomen ne. Strategi permintaan maaf digunakan dengan maksud untuk mengungkapkan penyesalan karena tidak dapat memenuhi ajakan tersebut.

Kesimpulannya terdapat perbedaan penggunaan strategi penolakan yang digunakan orang Jepang sebagai penutur asli ketika sedang menolak ajakan dari sensei dan ketika menolak ajakan dari teman. Ketika menolak ajakan dari sensei lebih banyak menggunakan ungkapan maaf pada tuturannya dan di akhir penolakannya disampaikan ucapan terima kasih atas ajakan yang sudah ditawarkan. Ketika menolak ajakan dari teman juga menggunakan strategi penoalakan berbentuk permintaan maaf di awal dan strategi permintaan maaf pada wujud ‘maaf’ yang sebenarnya di akhir tuturan penolakannya.

Respond For " TINJAUAN PUSTAKA "

error: Content is protected !!